Melihat Setitik Potret Jahatnya Pembajakan Melalui Novel 'Selamat Tinggal'- Tere Liye

 'Allo! 

Disini aku akan membahas tentang sebuah novel, yup! sesuai judul tulisan ini novel itu adalah novel 'Selamat Tinggal' karya Tere Liye yang terbit ditahun 2020. 
Selamat Tinggal bercerita tentang seorang mahasiswa abadi bernama Sintong. Sintong merupakan pemuda 'kampung' yang berhasil diterima di universitas ternama Indonesia. Paklik nya yang akan membiayai semua kebutuhan Sintong selama berkuliah dengan syarat Sintong harus menjadi penjaga toko buku bajakan miliknya-yahh bukan hal sulit kan?-. Di dua tahun pertama perkuliahan Sintong menunjukan prestasi yang gemilang, dia aktif di berbagai macam kegiatan mahasiswa, menulis berbagai artikel hingga dimuat di koran nasional dan lain-lain. Namun semua itu berubah diakhir tahun keduanya disaat dia mengalami patah hati mendalam. Kehidupannya mulai kacau, mengerjakan tugas sembarangan, gairah menulisnya padam, dan sebagainya. Hingga pada akhirnya gairah menulisnya hidup kembali dan dia mulai memperbaiki hidupnya-to be continue-. 
Yah itu hanya secuil dari isi novel 'Selamat Tinggal' Bahkan tidak bisa disebut sebagai sinopsis-Kalau mau tahu cerita selengkapnya, beli novelnya dan baca sendiri dijamin kalian akan tenggelam dalam ceritanya-.
Back to my point dalam tulisan ini, di dalam novel ini ada satu hal yang membuat aku merasa tersentil, tertampar, terguling yaitu tentang 'PEMBAJAKAN'. Yup! pembajakan, sudah aku sebutkan kalau Sintong bekerja sebagai penjaga toko buku bajakan milik pamannya. Tere Liye sendiri lewat postingan-postingannya di facebook sering memposting tentang kegiatan pembajakan ini, dan lewat novel 'Selamat Tinggal' Tere Liye berhasil menyampaikan betapa jahatnya kegiatan pembajakan yang sekarang seakan-akan menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan.
Jadi, apa sebenarnya bahaya buku bajakan? let's us see..
di part 2 WKWKWKW

Comments

Popular posts from this blog

A Hit Comeback!